Malam itu, beberapa petugas cukup cekatan mendaki anak tangga
candi jawi. Dengan sebatang korek api, mereka menyalakan satu demi satu
penerangan lampu minyak yang ada disudut-sudut candi. Tepat pada hari jumat
kemarin memang diselenggarakan acara Gebyar Suro dan peringatan 1 Muharram di
salah satu ikon wisata Kabupaten Pasuruan ini. Dimeriahkan dengan pagelaran
tari dari Padhepokan Seni Saraswati dan Paguyuban Lawak Pasuruan.
Dibuka dengan sedikit atraksi kembang api, acara malam itu
cukup menarik perhatian publik. Apalagi bertepatan dengan Long Weekend, areal
komplek Candi Jawi penuh sesak oleh para penonton, termasuk tamu-tamu undangan
dari komunitas Seni Tari termasuk dari Malang dan Bali.

Beberapa penari tampil dengan kostum tradisional serba
gemerlap dan riasan yang menarik. Tarian SekarSari yang anggun gemulai
mengawali acara malam itu, dibawakan oleh tiga penari putri yang mampu membius
para penonton disekeliling panggung.
Menyusul selanjutnya sajian Tari Cilinaya yang dibawakan oleh para remaja Putri dari Bali. Dengan kostum panggung, serta gerakan dan musik khas Pulau Dewata, mampu menghadirkan nuansa khas tradisi Bali di candi Jawi.
Menyusul selanjutnya sajian Tari Cilinaya yang dibawakan oleh para remaja Putri dari Bali. Dengan kostum panggung, serta gerakan dan musik khas Pulau Dewata, mampu menghadirkan nuansa khas tradisi Bali di candi Jawi.
Pada pertengahan acara, tampil pula penari cilik yang juga
dari Bali. Bocah perempuan yang berbakat ini adalah seorang penderita
disabilitas (Penderita tuna rungu dan tuna wicara). Dengan dipandu oleh
instruktur tari dari depan, bocah ini mulai bergerak lincah bagaikan seorang
penari normal yang mengikuti irama dan alunan musik.
Para penonton terperangah, aba-aba gerakan tangan dan isyarat jari dari instruktur didepan panggung, mampu diterjemahkan baik olehnya. Gerakan luwes dan nyaris sempurna tanpa sadar membuat para penonton bertepuk tangan memuji penampilannya. Sungguh sebuah pertunjukan yang cukup menguras emosi para penonton, rasa iba dan kasihan diawal, sontak berubah menjadi keterkaguman di akhir penampilan.
Puncak acara adalah penampilan Tari Sintren Topeng Tayub,
seorang penari tunggal menutup malam pagelaran ini dengan sebuah penampilan
yang penuh kreasi dan keunikan dari Tari Topeng tradisional. Dengan mengikuti
alunan musik yang temponya naik turun, dia menyesuaikan gerakan serta
menyempatkan berganti-ganti topeng mengikuti karakter musik yang pas dengan
karakter Topengnya.
Penampilan yang cukup unik, kreatif, dan tentunya sedikit humor itu, tak pelak mengundang reaksi penonton untuk ikutan naik ke panggung. Mereka ikut diajak menari secara spontan, bergantian seorang demi seorang berduet dengan penari aslinya. Tari Sintren Topeng Tayub itupun menjadi akhir yang istimewa dari rangkaian acara Gebyar Suro menyambut tahun baru 1 Muharram di Candi Jawi. /zoer)
Dalam Perbincangan dengan Mpu Batik Padepokan Alam Batik Mas Ferry Joyo, Desa Sekar, Prigen Pandaan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Nampaknya Pihak Pariwisata Toursm layak melakukan penelahaan dan kajian bersama, serta pengkayaan makna dan tujuan Candi Jawi di buat dan dikembangkan, untuk kepentingan masa lalu tersebut, hingga keberadaanya di siapkan untuk kepentingannya masa depannya, yaitu masa kini yang mengembang, semoga bisa segera di kondisikan dan dikoordinasikan.
ReplyDelete